Ketulusan vs popularitas

Oleh: Abu faiq

               Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhamad beserta keluarga dan sahabatnya.
Kesuksesan sebuah organisasi sering kali dinisbatkan secara latah kepada pemimpinya, demikian juga keberhasilan suatu perjuangan selalu hanya melegendakan nama pahlawanya, ini adalah klaim yang tidak adil, karena kita sadar bahwa sebuah kemenangan pasti selalu melewati proses-proses, sebab-sebab dan kerja-kerja kecil yang terakumulasi menjadi besar.

              Sejarah memang tidak selalu obyektif dalam menilai, banyak hak pelaku sejarah yang kerap kali termarjinalisasikan, lihatlah ketika kaum muslimin berhasil merebut al-quds dalam perang salib, nama yang muncul dan dilegendakan sebagai pahlawan hanya Salahudin Al-Ayyubi, padahal kita tahu bahwa sebelum itu kaum salib telah menguasai al-quds selama kurang lebih Sembilan puluh tahun, dan selama itu pula ada banyak usaha perlawanan disana-sini dari kaum muslimin, ada perlawanan militer, ada gerakan dakwah, penyadaran sosial, penggalangan dana, doa-doa yang senantiasa dipanjatkan oleh segenap insan beriman di seluruh penjuru negeri islam, dan banyak kegiatan pengkondisian lainya yang kesemuanya itu telah memberikan andil yang relatif sama dalam membentuk situasi kemenangan, sebelum akhirnya diselesaikan dengan gemilang ole Salahudin Al-Ayyubi. Jadi, kemenangan dalam perang salib adalah karya beberapa generasi bukan karya satu orang.

             Jika demikian, maka sejarah dengan ketidak obyektifitasanya itu akan menjadi kontraproduktif dalam memacu semangat pelakunya untuk memberikan kontribusi, khususnya bagi mereka yang miskin keikhlasan dan orang-orang yang namanya tidak memiliki peluang untuk diabadikan sejarah, yaitu mereka yang bukan panglima, bukan pula pemimpin atau ketua.

              Tetapi seorang muslim yang beriman tidak  akan pernah terpengaruh dalam berkontribusi oleh apa yang akan dikatakan sejarah di kemudian hari terkait dirinya, orientasinya hanyalah bagaimana menggapai ridho Allah SWT, ia akan senantiasa bekerja keras dan berupaya memberi andil dalam setiap usaha pembentukan sejarah walaupun dalam ruang yang kecil seperti organisasi kemahasiswaan PPMI, KAMISA dsb.

             Seorang muslim yang ikhlas dalam berorganisasi akan senantiasa mempersembahkan partisipasi terbaiknya dalam membesarkan organisasi, apapun jabatan strukturalnya, meski ia hanya tercatat sebagai anggota biasa, karena ia berpegang dengan prinsip:” sesungguhnya Allah tidak melihat apa kedudukan dan jabatan seorang hamba ketika beramal, tetapi melihat bagaimana kwalitas amalnya”. Sabda Rasulullah saw:

" ?? ???? ??? ?? ????? ??? ??? ???? ?? ????? "

“ Sesungguhnya Allah Cinta kepada hambanya jika melaksanakan satu pekerjaan/tugas, ia sempurna dalam melaksanakanya”.